Saturday, September 26, 2009

Catatan Buddhism Indonesia: Kisah tentang Tuan Truong


Ini adalah sebuah kisah nyata. Kisah ini terjadi di Vietnam, ratusan tahun yang lalu.

Ada seorang pria yang masih muda belia, ia harus mengikuti wajib militer. Sehingga dia menjadi tentara dan pergi berperang. Dia harus meninggalkan istrinya sendirian di rumah dalam keadaan hamil. Mereka menangis cukup lama saat berpisah.

Pria muda itu cukup beruntung; dia selamat. Beberapa tahun kemudian, dia dibebastugaskan. Istrinya sangat gembira mendengar kabar bahwa suaminya akan pulang. Dia pergi ke pintu gerbang desa dan menyambut suaminya, dia ditemani anak laki-lakinya yang masih kecil. Anak kecil itu dilahirkan saat ayahnya masih bergabung dengan pasukan militer. Pada saat mereka bertemu kembali, mereka menangis dan saling berpelukan.

Pria itu meminta istrinya pergi ke pasar untuk membeli bunga, buah-buahan, dan barang persembahan lain yang diperlukan untuk membuat persembahan di altar. Pria itu membawa anaknya pulang dan mencoba membujuk anaknya untuk memanggilnya ayah. Tetapi anak tersebut menolak. “Tuan, kamu bukanlah ayah saya. Ayah saya adalah orang lain. Ia selalu mengunjungi kami setiap malam, dan setiap kali ia datang, ibu saya akan berbicara dengannya lama sekali. Saat ibu duduk, ayah juga duduk, saat ibu tidur, dia juga tidur. Jadi kamu bukanlah ayah saya.”
comen anda saya tunggu:



Ayah muda tersebut sangat sedih, sangat terluka. Dia membayangkan ada pria lain yang datang ke rumahnya setiap malam dan menghabiskan waktu semalaman dengan istrinya. Semua kebahagiaannya lenyap seketika.

Setelah mempersembahkan dupa, berdoa dan melakukan empat sujud, ayah muda tersebut menggulung tikar, dan ia tidak mengizinkan istrinya melakukan hal yang serupa, karena ia berpikir bahwa istrinya tidak pantas untuk menampakkan dirinya di depan altar para leluhur. Wanita muda itu kemudian merasa malu, “terhina” karena peristiwa itu, dan dia menderita lebih dalam lagi. Menurut tradisi, setelah upacara selesai, mereka harus membereskan persembahan, dan keluarga tersebut harus duduk dan menikmati makanan dengan suka cita dan kegembiraan; tetapi pria muda tersebut tidak melakukannya. Setelah ritual persembahan, pria muda tersebut kemudian pergi ke desa, dan menghabiskan waktunya di kedai arak. Pria muda tersebut mabuk karena dia tidak dapat mengangggung penderitaannya. Pada masa itu, saat mereka sangat menderita.

Ia tidak pulang ke rumah hingga larut malam, sekitar pukul satu atau dua dini hari dia baru pulang ke rumah dalam keadaan mabuk. Dia mengulangi perbuatannya tersebut hingga beberapa hari, tidak pernah berbicara dengan istrinya, tidak pernah menatap istrinya, tidak pernah makan di rumah, wanita muda tersebut sangat menderita dan ia tidak dapat menganggungnya. Pada hari keempat ia melompat ke sungai dan mati. Dia sangat menderita. Pria tersebut juga menderita. Tapi tidak seorangpun dari mereka berdua yang datang pada salah satu pihak dan memita bantuan, karena “harga diri”-mu harus memanggil dengan nama aslinya, “harga diri” penghambat.

Malam itu, dia harus tetap tinggal di rumah karena istrinya sudah meninggal dunia, untuk menjaga anak laki-lakinya yang masih kecil. Dia mencari lampu minyak tanah dan menyalakannya. Saat lampunya menyala, tiba-tiba anak kecil itu berteriak: “Ini dia Ayahku!” dia menunjuk bayangan ayahnya di dinding. “Tuan, ayahku biasanya datang tiap malam dan ibu berbicara banyak dengannya, dia menangis di depannya, setiap kali ibu duduk, ayah juga duduk. Setiap kali ibu tidur, ayah juga tidur.”
Jadi, ‘ayah’ yang dimaksudkan anak tersebut hanyalah bayangan ibunya. Ternyata, wanita itu biasanya berbicara dengan bayangannya setiap malam, karena dia sangat merindukan suaminya. Suatu ketika anaknya bertanya kepada ibunya: “Setiap orang di desa memiliki ayah, kenapa aku tidak punya?” Sehingga pada malam tersebut, untuk menenangkan anaknya, sang ibu menunjuk bayangannya di dinding, dan berkata, “Ini dia ayahmu!” dan ia mulai berbicara dengan bayangannya. “Suamiku saying, kamu sudah pergi begitu lama. Bagaimana mungkin aku membesarkan anak kita sendirian? Tolong, cepatlah pulang sayang.” Itulah pembicaraan yang sering ia lakukan. Tentu saja, saat dia lelah, ia duduk, dan bayangannya juga duduk. Sekarang ayah muda tersebut mulai mengerti. Persepsi keliru sudah menjadi jernih. Tetapi semua itu sudah terlambat; istrinya sudah mati.

Setelah pria muda tersebut sadar akan kesalahannya, dia menangis dan terus menangis. Dia menjambak rambutnya. Memukul dadanya. Tapi semuanya sudah terlambat! Akhirnya semua penduduk di desa tersebut belajar dari tragedi itu, mereka datang dan mengadakan upacara besar untuk mendoakan wanita yang malang itu. Sebuah upacara pembersihan ketidakadilan yang dilakukan orang seperti kita, yang berasal dari ketidaktahuan dan persepsi keliru kita. Bersama-sama, mereka membangun stupa untuk wanita malang itu. Hingga saat ini, stupa itu masih berdiri tegak di sana. Jika anda mengunjungi Vietnam Utara, dan melewati sungai itu, anda akan melihat stupa tersebut.

Kita semua harus belajar dari penderitaan pasangan muda tersebut, Kita seharusnya tidak melakukan kesalahan yang sama. Lain kali, saat anda menderita, bila anda yakin bahwa penderitaan itu disebabkan oleh orang yang paling anda cintai, anda harus ingat cerita ini. Anda harus berhati-hati. Anda harus mengetahui bagaimana caranya melatih dirimu sendiri, untuk bersiap-siap menghadapi situasi seperti itu.

Dikutip dari buku “Menyembuhkan Diri, Mengatasi Derita”
Oleh : Ven Zen Master Thich Nhat Hanh.

ini comen dari facebook:

Herman Surya:
semoga cerita ini bisa membuka pintu pikiran kita bahwa suatu kecurigaan bisa berakibat fatal, semoga kita selalu mengarahkan pikiran positif dalam menjaalani kehidupan ini, semoga semua makluk berbahagia

DI AMBIL DARI CATATAN FACEBOOK : AGUS PRIONO KUM/EMAIL:agusprionoyaskum@yahoo.co.id

Reaksi:

8 comments:

  1. ass..wr.wb/lam sejahtera
    ehm..bagus juga postngnya.menurutku cerita ini seru banget he..he..oh iya thnxs dah kunjung n dah ku isi links anda cek ya...

    ReplyDelete
  2. Membuat aku semakin instropeksi diri ..

    ReplyDelete
  3. Really sad story, but it reminds us of the importance of honesty

    ReplyDelete
  4. ada hikmah yg bisa dipetik.
    komunikasi sangat penting di dalam sebuah keluarga.
    makasih sharingnya.

    ReplyDelete

Powered by Blogger.